Zidane Pelatih ke-11 yang Kembali ke Real Madrid

Sampulbola – Zinedine Zidane jadi pelatih ke-11 yang kembali ke Real Madrid untuk kedua kalinya. Zidane menjadi pelatih Madrid usai pemecatan Santiago Solari.

Pelatih asal Prancis itu mengundurkan diri dari jabatannya pada Mei 2018. Namun hampir 10 bulan kemudian Zidane balik ke Santiago Bernabeu.

Sebelum Zidane ada 10 pelatih yang melakoni petualangan kedua atau kesekian kalinya bersama Los Blancos. Seluruh pelatih itu datang dengan kondisi yang berbeda dan mendapat hasil beragam.

Berikut 10 pelatih yang untuk kesekian kalinya menangani Real Madrid:

Jacinto Quincoces (keluar 1946, kembali pada 1947)

Jacinto Quincoces menjadi pelatih pertama yang kembali ke Madrid untuk kedua kalinya. Quincoces meraih trofi Copa del Rey 1945/1946. Lalu ia kembali ke Madrid pad 1947 namun tidak menikmati keberhasilan setelah hanya meraih lima kemenangan dari 18 laga. Quincoces digantikan Michael Alexander Keeping yang menjadi pelatih hingga 1950.

Baltasar Albeniz (keluar 1947, kembali pada 1950)

Albeniz juga memenangi Copa del Rey di musim pertamanya (1946/1947). Seperti Quincoces, Albeniz memiliki mimpi buruk ketika kembali di musim 1960/1951. Albeniz pun hanya bertahan selama 16 laga sebelum dipecat.

Miguel Munoz (keluar 1950, kembali pada 1960)

Munoz kali pertama menjadi pelatih Madrid pada 1959 berstatus sementara menggantikan Luis Carniglia yang sakit. Ia kembali ke Madrid satu dekade kemudian (1960) dengan meraih banyak kesuksesan.

Di petualangan keduanya itu Munoz bertahan hingga 1974 dengan memenangi 9 gelar Liga Spanyol, 2 Liga Champions, dan trofi lainnya termasuk Piala Intercontinental. Sampai saat ini Munoz termasuk pelatih paling terhomat sepanjang sejarah.

Luis Molowny (keluar 1974, kembali pada 1977, 1982, dan 1985)

Baca Juga:  5 Warisan Zinedine Zidane di Real Madrid

Molowny menggantikan Munoz pada 1974 dengan meraih Copa del Rey pada musim pertamanya. Setelah kembali ke tim cadangan, Molowny menjadi pelatih utama pada 1977 menggantikan Miljan Miljanic dengan memenangi gelar liga dua kali beruntun.

Ketika menggantikan Boskov pada 1982/1982, Molowny meraih trofi Copa del Rey lagi. Trofi kembali diraih Molowny saat melatih Madrid pada April 1985 dengan mendapatkan Piala UEFA di musim itu dan di musim berikutnya.

Alfredo Di Stefano (keluar 1984, kembali pada 1990)

Di antara tahun 1982 dan 1984 Di Stefano melakukan keajaiban untuk Madrid, seperti saat menjadi pemain. Di Stefano kembali lagi ke Bernabeu pada akhir 1990 dan meraih Piala Super Spanyol pada Maret 1991.

Leo Beenhakker (keluar 1989, kembali pada 1992)

Beenhakker memenangi tiga gelar liga dalam tiga musim pertamanya, ditambah Copa del Rey dan Piala Super Spanyol. Namun cerita itu berubah drastis ketika kembali untuk kedua kalinya pada 1992 menggantikan Radomir Antic. Madrid jadi runner-up Barcelona, kalah dari Atletico di final Copa del Rey dan tersingkir dari Piala UEFA.

Vicente Del Bosque (keluar 1994, kembali pada 1996 dan 1999)

Del Bosque menjadi pelatih sementara ketika klub itu tanpa pelatih permanen pada 1994 dan 1996. Pada tahun 1999 setelah John Toshack dipecat, Del Bosque diberikan kesempatan menjadi pelatih. Bersama Del Bosque, Madrid meraih tujuh trofi (dua Liga Champions, dua La Liga, satu Piala Intercontinental, Piala Super Eropa, dan Piala Super Spanyol).

Jon Toshack (keluar 1990, kembali pada 1999)

Toshack membawa Madrid meraih gelar La Liga di musim 1989/1990 dengan mencetak rekor poin. Akan tetapi ia tidak bisa melanjutkan kesuksesan di kesempatan keduanya. Usai memberikan Iker Casillas melakoni debut, Toschak melakoni beberapa bulan yang menyedihkan dan dipecat pada November 1999.

Baca Juga:  Dicap sebagai Biang Kekalahan Real Madrid, Marcelo Sewot

Jose Antonio Camacho (keluar 1998, kembali pada 2004)

Camacho jadi pelatih permanen pada 1 Juli 1998, tetapi langsung dipecat pada Juli 1998. Ia didatangkan kembali pada 2004, namun hanya bertahan selama enam pertandingan.

Fabio Capello (keluar 1997, kembali pada 2006)

Di musim pertamanya pada 1996/1997, Capello membawa Madrid meraih gelar liga. Saat kembali di musim 2006/2007, Capello mendapat prestasi serupa. Namun ia mendapat kritik karena gaya bermain timnya di musim berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *